Home / Blog / POLRES KLATEN DORONG SINERGI PERLUASAN LAHAN DAN AKSES KUR UNTUK DUKUNG KETAHANAN PANGAN

POLRES KLATEN DORONG SINERGI PERLUASAN LAHAN DAN AKSES KUR UNTUK DUKUNG KETAHANAN PANGAN

Polres Klaten Dorong Optimalisasi Lahan dan Akses KUR Himbara untuk Tingkatkan Produksi Jagung

Klaten – Polres Klaten menggelar Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan bersama instansi terkait, perbankan Himbara, Perhutani, dan kelompok tani guna membahas strategi peningkatan produksi jagung melalui pemanfaatan lahan potensial dan dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Berdasarkan data yang dipaparkan, Polres Klaten telah menginventarisasi potensi lahan seluas 14,32 hektare yang terdiri dari 13,6 hektare lahan Perhutani, 0,1 hektare lahan tumpang sari, dan 0,62 hektare lahan milik Polri yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya jagung. Namun demikian, pemanfaatan lahan masih menghadapi sejumlah kendala, di antaranya lahan tidur yang belum tergarap optimal, keterbatasan akses modal, serta minimnya informasi petani terkait program KUR sektor pertanian.

Kapolres Klaten AKBP Moh. Faruk Rozi, S.H., S.I.K., M.Si. dalam arahannya menegaskan bahwa Polri siap menjadi fasilitator antara kelompok tani dan perbankan Himbara untuk mendukung peningkatan produksi jagung. Menurutnya, program tersebut memerlukan keseriusan dan komitmen dari seluruh pihak karena pembiayaan yang diberikan merupakan pinjaman yang harus dikelola secara bertanggung jawab.

“Diperlukan komitmen bersama agar program ini dapat berjalan optimal. Polri siap mendampingi dan mengawasi sehingga bantuan pembiayaan yang diberikan benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” ujarnya.

Dari sektor perbankan mendukung program Ketahanan Pangan untuk membantu petani dalam pemodalan melalui pinjaman KUR dari Bank Himbara sesuai dengan mekanisme yang ada.

Dalam forum tersebut juga terungkap sejumlah kendala yang dihadapi petani, seperti serangan hama tikus yang menyebabkan banyak lahan tidak lagi digarap, keterbatasan alat ukur kadar air hasil panen, serta kebutuhan akses listrik untuk mendukung kegiatan pertanian.

Selain persoalan budidaya, peserta rapat juga menyoroti tantangan pascapanen. Jagung yang diserap Bulog harus memenuhi standar kadar air tertentu, sementara sebagian besar petani belum memiliki fasilitas pengering (dryer). Kondisi ini menyebabkan petani lebih memilih menjual hasil panennya kepada tengkulak yang tidak menerapkan persyaratan kadar air secara ketat.

Melalui sinergi antara Polri, pemerintah daerah, perbankan, Perhutani, dan kelompok tani, diharapkan program optimalisasi lahan dan pemanfaatan KUR dapat mendorong peningkatan luas tanam serta produksi jagung di Kabupaten Klaten sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *